Link Worth

Candi Yang Menyisakan Cerita Yang Misteri

Written by usman on 9:21 PM

CANDI ARJUNA
Candi Arjuna (kanan)
Ketinggian 2.075 meter di atas permukaan laut menyembunyikan sebuah dunia lain di balik kabut. Dunia di mana pelukan alam sangat terasa. Dunia yang
menjadi tempat pertemuan antara manusia dengan dewa-dewa yangdipujanya. Tempat itu bernama Dieng. Berasal dari katadihyangyang berarti tempat arwah leluhur atau para dewa.

Empat gugusan candi masih berdiri anggun di dataran tinggi ini melewati putaran waktu ratusan tahun. Hanya itu yang berhasil selamat dari seleksi alam, yaitu dari gejolak alam pegunungan berapi di bawahnya, penduduk sekitar yang kurang memahami nilai historis, serta jarahan pencuri.
Saat ini, sebagian candi di empat gugusan candi itu hanya meninggalkan reruntuhan, bahkan hilang. Yang tersisa, gugusan Candi Arjuna yang terdiri dari Candi Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra. Sementara itu, gugusan candi lain menyisakan masing-masing satu candi, yaitu Candi Gatotkaca, Dwarawati, dan Bima.

Tak mudah mengungkap kisah di balik candi-candi yang bertebaran di dataran tinggi yang ada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah, ini. Sedikitnya 13 prasasti ditemukan di kompleks ini, tetapi tidak menjelaskan pendirian candi. Sebagian besar sulit dibaca, sementara yang terbaca tidak menyebut candi tertentu. Prasasti yang tertulis dalam huruf Pallawa dengan Bahasa Jawa Kuno ini memuat angka tertua 731 Saka (809 Masehi) dan termuda 1.132 Saka (1.210 Masehi).
Ciri arsitektur bangunan candi digunakan untuk memperkirakan masa pembangunannya.

Candi candi Dieng dibangun pada masa berbeda, yaitu antara abad VII – XIII. Peran candi di Dataran Tinggi Dieng sebagai pusat kegiatan agama Hindu, terutama pemuja Dewa Syiwa, tak diragukan lagi. Namun, seperti apa denyut nadi yang pernah menggerakkan percandian agung ini masih menjadi misteri. Bahkan, nama candi yang saat ini mengacu pada tokoh pewayangan pun diperkirakan baru diberikan berabad setelahnya. Nama asli masing-masing candi juga misteri. Misteri yang sangat menarik untuk diungkap demi pembelajaran bagi masa depan.

CANDI SEMAR
Ukuran: 4,65 m x 2,6 m x 2,8 m. Dilihat dari cara pemasangan tangga masuk ke bilik, candi ini diduga sezaman dengan Candi Arjuna. Kaki candi sebagai lantai tampak tebal dan tangga masuk ke bilik menempel di sisi lantai, sehingga kaki masih berfungsi sebagai lantai bangunan. Kala berbentuk raksasa dengan mulut tanpa rahang bawah.Makara berkepala binatang air yang berbelalai gajah mengarah ke samping kanan dan kiri pintu bilik. Kaki candi terdiri dari susunan bentuk padma. Bentuk ini juga ditemukan pada atapnya. Ventilasi udara/penerangan berbentuk genta, yaitu di dinding kanan dan kiri (masing-masing 2 buah), dinding depan (2 buah), dan dinding belakang (3 buah). Ruangnya kosong dan diperkirakan berfungsi sebagai tempat penyimpanan alat upacara atau ruang peristirahatan pandhita.


Candi Sembadra, Candi Puntadewa, Candi Srikandi.

Candi-candi di atas telah ada sebelum Islam masuk ke Indonesia.
Hasil pemeriksaan sementara menyebutkan, peti mati batu ini berasal dari jaman 500 tahun sebelum masehi hingga 300 tahun setelah masehi. "Umurnya sudah sangat tua, 2.500 tahun lebih," kata Kepala Balai Arkeologi DenpasarWayan Suantika yang memimpin pemeriksaan.

mari kita badingkan umur peti mati batu itu yg berumur 2500 tahun itu
dengan kata2 sabdo palon (semar)atao mungkin juga disebut batara Guru dibali begini

Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini :

(Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)

Ungkapan di atas menyatakan bahwa Sabdo Palon (Semar) telah ada di bumi
Nusantara ini bahkan 525 tahun sebelum masehi jika dihitung dari berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun 1478. Saat ini di tahun 2007, berarti usia Sabdo Palon telah mencapai 2.532 tahun. Setidaknya perhitungan usia tersebut dapat memberikan gambaran kepada kita, walaupun angka-angka yang menunjuk masa di dalam wasiat leluhur sangat toleransif sifatnya. Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa “suara tanpa rupa”. Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini
dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa.

Namun dalam perwujudannya sebagai manusia tetap mencirikan karakter Semar sebagai sosok “Begawan atau Pandhita”. Hal ini dapat dipahami karena dalam kawruh Jawa dikenal adanya konsep “menitis” dan “Cokro Manggilingan”.



READ MORE ("Baca Artikel ini SELENGKAPNYA")

----Candi Yang Menyisakan Cerita Yang Misteri----

Semar Sebagian Dari Tokoh Wayang

Written by usman on 9:05 PM

Keberadaan Semar sebagai bagian dari tokoh wayang terdapat pada kitab-
kitab kuno, relief-relief candi, maupun ceritera-ceritera lisan yang
disampaikan secara turun temurun.

Relief / arca candi yang menggambarkan tokoh Semar, antara lain:
  • - Candi Panataran di Blitar (+/- 1197 - 1454) yang memuat ceritera
Sawitri, dalam gambar berupa relief diperlihatkan Semar menyertai
Setiawan
  • - Candi Jago (+/- 1286), para punakawan ditampilkan berupa arca.
  • - Candi Tegalwangi di Kediri (+/- 1370) yang memuat ceritera
Sudamala, dalam gambar berupa relief diperlihatkan Semar mengiringi
Sadewa.
- dll

Kitab-kitab kuno memuat tokoh semar, antara lain:
  • - Kitab Gatotkacasraya, ditulis oleh Mpu Panuluh th 1188 M
  • - Kitab Korawaçrama, ditulis antara th 1200-1500
  • - Kitab Sudamala, ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (kira-kira
seumur dengan Korawaçrama)
  • - Kitab Tantu Panggelaran, kira-kira seumur dengan kitab Sudamala dan
Korawaçrama
  • - Kitab Manik Maya, ditulis oleh Karta Mursadah pada abad ke 19
  • - Kitab Kanda, ditulis oleh Narawita pada abad ke 19
  • - Kitab Paramayoga, ditulis oleh Ranggawarsita
Dalam kitab Korawaçrama dan Sudamala, dikatakan Semar merupakan anak
dari Hyang Tunggal, sementara dalam kitab Tantu Panggelaran dikatakan
Semar merupakan anak dari Sang Hyang Wenang. Kitab-kitab berikutnya,
ceritera-ceritera wayang menjadi aneh termasuk mengenai Semar. Dalam
kitab- kitab terakhir ini (Manik Maya, Kanda, dan Paramayoga) dewa-
dewa secara keseluruhan ditempatkan di bawah "nabi" Adam. Aneh
memang, Purbacaraka saja protes...

sumber:
http://www.nabble.com/semarnya-kafir-p20405703.html
READ MORE ("Baca Artikel ini SELENGKAPNYA")

----Semar Sebagian Dari Tokoh Wayang----

Semar Bikinan Sunan Kali Jaga

Written by usman on 12:58 PM

Benarkah Semar itu Bikinan Sunan Kali jaga..?

Masih banyak masyarakat Indonesia yang mengira bahwa Semar adalah ciptaan Sunan Kalijaga. Pendapat tersebut amat keliru karena membaca atau mendengar dari sumber yang salah, atau sengaja memutar-balikkan fakta. Tokoh Semar sudah ada pada zaman Pra-Islam. Tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakimpoi, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.

Semar atau lengkapnya Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.

Sejarah Semar

Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.

Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.

Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.

Terdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal-usul Semar. Namun semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan dewa.

Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenang kemudian diwariskan kepada putranya yeng bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.

Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dari Sanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkimpoian itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, dan Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismaya hanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya.

Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggal pun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkan Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.

Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putra Sanghyang Rekatatama. Dari perkimpoian itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberi nama Manikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit.

Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar.

Catatan :
"saya penasaran jika benar tulisan diatas maka penjelasan tnetang semar ternyata berpindah pindah dari penjelasan satu berkembang ke penjelasan yang lain. dan memang benar semar terdapat dalam relief sudamala di candi sukuh. tetapi itu baru tegambar pada ahir majapahit dimana kanjeng sunan kalijaga sudah ada. jadi apakah ada bukti lebih tua tentang semar yg tercatat?

dicopas dari :http://www.facebook.com/note.php?not...72501&comments

READ MORE ("Baca Artikel ini SELENGKAPNYA")

----Semar Bikinan Sunan Kali Jaga----

Ancient Fish Living In Indonesia!

Written by usman on 2:20 PM

Jakarta, KCM

Species of ancient fish (coelacanth) re-appear at the bottom of the Sulawesi Sea during research expeditions conducted between March 31 until June 4, 2008. The researchers from the Center for Oceanographic Research Pengentahuan Indonesian Institute of Sciences (LIPI) and the Aquamarine Fukushima Japan managed to record its presence using an underwater camera that brought Remotely operated vehicle (ROV).

Fish found in the waters of Central Sulawesi at a depth of 157 meters is the fifth coelacanth ever seen in Indonesian waters. Sulawesi Coelacanth was first seen by Mark V. Erdmann of the University of California at Berkeley, USA and his wife Arnaz Mehta in 1997 in death and are sold at a traditional market in Manado, North Sulawesi ..

New on July 30, 1998, Erdmann managed to obtain a fish of about 1.5 meters long and weighing 45 pounds caught in fishing nets around the island of Manado Tua, North Selawesi. Fish that had lived for about three hours of work are documented and secured before being sent to the laboratory LIPI and now stored in the Zoology Building, Research Center for Biology LIPI Cibinong, Bogor Regency.

Two other successful coelacanth fish caught in the deep sea floor 145 meters Sulawesi in 1999 during the expedition that made the researchers from the Max Planc Institute uses the ship Varuna Jaya VIII. Although only a video recording, the findings are still shook the world.

Coelacanth scaly body sharp. Dark-colored fish and has four fins like legs do not let the eggs hatch outside the body such as fish normally. The fertilized egg will be swallowed and children newly issued after the eggs hatched.

Living fossils

This finding becomes interesting because this fish species has not changed anatomy for millions of years. The youngest fossil coelacanth 70 million years old and the oldest 360 million years. These fish had been thought extinct until rediscovered in the east coast of Africa in 1939.

In subsequent studies, the fish named Latimeria chalumnae Smith also found in the vicinity of the Comoros in the Indian Ocean, Mozambique, and Madagascar. Coelacanth populations are also found in Sodwana Beach in November 2000.

"The coelacanth found in Indonesia have different genetic characteristics with the Coelacanth found in Africa. In addition, the results of DNA analysis showed that the fish that live in Indonesia are older than the fish in Africa," said one researcher, Dr. M. Kasim Moosa, experts from the Marine Biological LIPI, the 100-year press conference Research Institute of Marine Sciences LIPI in Jakarta, Monday (26 / 6).

The researchers who found it suggested the name to distinguish it manadoensis Latimeria. According to the Eunuch, the possibility of a coelacanth embryo of four-legged creatures that live on land. Coelacanths have a close evolutionary relationship with the first fish that live on the beach before live on land about 360 million years ago.

"The origin of fish in Africa might come from Indonesia and there is the possibility the fish live except in Sulawesi, such as the Philippines or other areas," said Kasim.

LIPI plan to conduct further research to find out more about the spread of these fish species.

Hopefully yes beguna in increasing knowledge!
READ MORE ("Baca Artikel ini SELENGKAPNYA")

----Ancient Fish Living In Indonesia!----

A Sad Face Appears in Norway Ice Layer

Written by usman on 2:15 PM

Glimpse of the glacier was like the other glaciers in the frozen Arctic. But in a closer observation, a painful face painted on the wall melting ice, which was the crying and the tears flowing river.

Image of 'Mother Earth' that was sadly seen by local residents during the process of melting, with melting ice and snow falling into the sea below.

Figure draw on Austfonna ice Nordaustlandet located at Svalbard Islands, Norway would almost certainly be used for environmental activists to protest climate change. Sea-level rise caused by melting ice is one of the main worries of the impact of global warming. Experts have warned that countries that are in the lowlands will be below the water surface.

Figure Mother Earth is crying was taken by a Navy photographer and lecturer Michael Nolan environment in an annual voyage to observe the glaciers and wild life around him.

Jon Ove Hagen, a glacier expert who is also a member of the World Glacier Monitoring Bureau (World Glacier Monitoring Service / WGMS) and Geosains professor at the University of Oslo, Norway, has confirmed that the layer of ice that gives the image of Mother Earth is 'crying' is continually shrinking as much as 160 feet every year for decades. Hagen has studied Austfonna ice since 1988.

Austfonna is the largest ice shelf area in Norway, precisely on the island of Svalbard Nordaustlandet. According to Hagen (59), has a broad Austfonna about 3000 square miles and is by far the largest ice sheet on Svalbard, and one of the largest in the Arctic.

He explains, glacier shrinkage on the surface in 12 years Austfonna averaged 160 feet per year. Geometry of the ice region, he said, is changing. The front continued to retreat, the bottom becomes thinner, with a depletion rate of three feet per year, while the interior thickened about 1.6 feet per year. Layer, said Hagen, decreased about 1.6 cubic miles of ice every year.

Austfonna is the area's second largest ice sheet in Europe after Iceland and Vatnajvkull in tersebesar classified seventh in the world.

Source: Kompas
READ MORE ("Baca Artikel ini SELENGKAPNYA")

----A Sad Face Appears in Norway Ice Layer----

Protect 80 million children from cigarette advertising in movies

Written by usman on 2:08 PM

Jakarta, cigarette ads in the movie impressions so far remained free circulation could have a negative impact for children. Child protection activists asked that the bill under consideration Film Parliament making impressions ban smoking in film products.

Vice Chairman of the National Commission for Child Protection Muhammad Joni said there are 80 millions of Indonesian children who should receive the attention of Commission X of the House of Representatives, and specifically to the Committee and Special Committee to Draft Film protect them from the negative effects of cigarette advertising in movies.

According to all forms of cigarette advertising and promotion in a movie show, a clear negative impact for children, can not be justified.

"Bill Cinema should not ignore the rights of children to be protected from the destructive effects of negative, ie, ensuring the prohibition of advertising, promotion and sponsorship of cigarettes in films. Including a ban on smoking impressions in the film product," Joni said in a written statement received by AFP , Saturday (5/9/2009).

Film bill currently under discussion in the House of Representatives Commission X. The end of tenure of board members is expected in late September did not make discussion of the bill to be rushed to the exclusion of crucial things such as advertising and promotional materials these cigarettes.

Joni explained, this prohibition was intended to prevent the effects of smoking addiction is deadly and impoverishing the people, and prevent the tobacco industry's desire to enter or ride from the artist's image or the image of the film as a creative work that consumed the community.

"After the film as a work of art is seen and consumed by the public, including children," he said.

Indonesia is one-satuya in Asia Pacific countries that have not ratified the Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), so isolated and strange in the treasury of tobacco control. Therefore, Joni said, 80 million Indonesian children looked forward to the Commission X of the House of Representatives and in particular the Committee and Special Committee on the Bill Cinema.

"Bill Cinema is expected to accommodate the interests of the child and the child became a stronghold of the bad influence of cigarettes," he concluded.


READ MORE ("Baca Artikel ini SELENGKAPNYA")

----Protect 80 million children from cigarette advertising in movies----

Mencari Artikel di Blog ini
Enter keyword :
Lumba Pictures, Images and Photos